Jumat, 30 September 2011

Alex, Seorang Bocah yang Dapat Kehilangan Nyawanya Hanya Karena Rumput atau Setitik Debu

Apa yang diinginkan Alex Hannard tak lebih dari bermain dengan teman-teman sebayanya di luar halaman rumah, namun karena menderita penyakit aneh, bocah ini tidak bisa melakukan hal tersebut karena sehelai rumput saja dapat merenggut hidupnya.


Alex tidak dapat bermain di luar rumah karena infeksi jamur atau bakteri dapat membahayakan nyawanya

Alex dari Hill Head, Hampshire, menderita gangguan kekebalan tubuh kronis atau Chronic Granulomatous Disease (GCD), yang menghentikan sel darah putihnya memerangi serangan bakteri dan infeksi jamur.

Akibatnya, bocah berusia sembilan tahun ini amat jarang meninggalkan rumahnya karena setitik debu atau sehelai rumput bisa membunuhnya, sebab ia dapat dengan mudah terkena infeksi jamur dan bakteri dari alam luar.

“Sulit bagi Alex untuk pergi ke luar dan melakukan hal-hal yang diinginkan anak seusianya.” tutur Louise ibunda Alex, yang terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat agar dapat merawat putranya tersebut.

Louise juga menambahkan bahwa akibat kelainan ini, Alex menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya, terutama saat ia pergi ke sekolah.


Alex didiagnosis dengan GCD pada tahun 2007 saat masih berusia lima tahun, oleh dokter di John Radcliffe Hospital, Oxford, Oxon.

Dimana para petugas medis sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Alex sampai ia dibawa ke ruang perawatan intensif, dan meminta orang tuanya yakni Louise dan David untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi yang terburuk.

“Ia (Alex) dipindahkan kedalam perawatan intensif. Kami diberitahu ia bisa meninggal dan mendengar hal tersebut merupakan sesuatu yang memilukan hati kami.” jelas Louise.

Beruntungnya salah satu dokter mengetahui ini merupakan penyakit GCD dan mereka kemudian mempompa alex dengan steroid. Dan tiga hari kemudian ia bangun dan kembali sehat.

Alex, yang bercita-cita menjadi ilmuwan genetik untuk membantu orang lain dengan kondisi serupa dengannya, saat ini membutuhkan transplantasi sel darah putih sehingga ia dapat menjalani hidup normal.


“Saya ingin bergabung dengan teman-teman dan pergi berkemah tapi aku tidak bisa pergi ke tempat yang lembab, karena aku dapat terkena infeksi.” keluh Alex.

“Alex memiliki begitu banyak pembatasan pada hidupnya karena infeksi sederhana bisa saja mengancam nyawanya.” jelas Anthony Nolan Juru bicara Victoria Moffett, yang membantu Alex menemukan donor sel induk darah putih.

Sumber :
manadotoday.com

Lastel, Hotel Mayat di Jepang yang Sedang Booming

Jepang adalah sebuah negara dengan tingkat kematiannya 1,6 juta per tahun, kematian disana telah menjadi suatu pasar yang booming di Jepang.

Seorang pengusaha Yokohama bernama Hisayoshi Teramura sedang mencoba untuk lebih dalam menekuni bidang bisnis ini dengan menawarkan sebuah hotel khusus untuk orang mati.

Mr Teramura yang sudah memiliki bisnis kuburan dan rumah duka membuka Hotel aneh ini di seberang toko mie yang tak berdosa di pinggiran kota Yokohama tahun lalu.


Hotel untuk para mayat ini bernama Lastel, menawarkan kamar untuk si mayat dengan sewa harian ¥ 12.000 (sekitar Rp. 1.400.000,-) dimana keluarga korban dapat sementara untuk menyimpan (atau mungkin memberi liburan untuk si mayat) saat si mayat menunggu giliran antrianpada krematorium kota yang akhir-akhir ini sedang ramai.

Di Yokohama, mayat menunggu kira-kira sampai 4 hari sebelum masuk dapur alias dikremasi, hal ini otomatis memberikan Hotel Lastel daftar tamu yang enggan menunggu giliran di rumahnya sendiri Ini juga untuk menghindari mayat menginap di rumah yang sempit selama dia menunggu giliran.

Menggunakan sistem pnyimpanan mayat yang canggih dan otomatis, hotel ini menyimpan dan mengawetkan mayat dengan suhu yang dingin, selama mayat-mayat ini bersemayam beberapa hari di ruang yang bisa dilihat, siang dan malam keluarga atau teman-teman mendiang bisa datang untuk memberikan penghormatan terakhirnya.

Penginapan Hisayoshi Teramura dari luar tampak seperti hotel-hotel kecil lainnya yang berada di kota pelabuhan, kadang-kadang ada pasangan kekasih yang keliru masuk dan memesan kamar, sementara sang staff mengatakan, "Kami hanya menyediakan ruangan dengan suhu dingin...!"





Pengurus Jenazah mempersiapkan mayat di hotel mayat Lastel.


Seorang karyawan mengatur bunga di ruangan mayat untuk dijenguk.


Dapur pondok kondominium, dimana anggota keluarga lainnya dapat tinggal sementara.

Sumber :
danish56.blogspot.com

Selasa, 27 September 2011

buyar

sudah berapa lamaaa ya aku gak mbuka blog.
paling terakhir posting pas jaman alay2. wakakkak. sekarang pingin ngerombak bog.ku
mau posting apa? aku juga masih bingung. masalahya kadang2 mesti rebutan odem sama kakak2ku hehe..